Kamis, 23 Desember 2010

SDM UJUNG TOMBAK ORGANISASI


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Memasuki era globalisasi dimana terjadi persaingan di bidang ekonomi yang semakin ketat dan terbuka, perusahaan harus mampu memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya. Secara garis besar sumber daya yang dimilikinya seperti finansial, fisik, manusia, dan teknologi. Karena jumlah sumber daya yang dimiliki perusahaan terbatas jumlahnya, maka perusahaan dituntut mampu memberdayakan dan mengoptimalkan pilihan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Dari berbagai sumber daya yang dimiliki perusahaan, sumber daya manusia (SDM) menempati tempat strategis dan penting diantara sumber daya lainnya. Bahkan pada organisasi yang tidak mencari laba, seperti pelayanan pemerintah atau sosial harus mengelola sumber daya manusia mereka sebagai sesuatu yang berharga dan menjadi titik pusat usaha.
Arti penting sumber daya manusia itu sendiri terhadap organisasi terletak pada kemampuan manusia untuk bereaksi positif terhadap sasaran pekerjaan atau kegiatan yang mengarah pada pencapaian organisasi. Dengan demikian faktor manusia merupakan faktor penentu bagi tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien, sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan justru ditentukan oleh manusia (Dessler, 1997:10-11). Pada era teknologi dimana pekerjaan manusia sudah dipermudah dan bahkan sudah ada yang diganti oleh mesin-mesin namun unsur manusia tetap menjadi unsur yang paling penting dan pada akhirnya paling menentukan dalam organisasi apapun juga.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2001:17), berhasil tidaknya suatu organisasi dalam pencapaian tujuan akan banyak ditentukan oleh keberhasilan individu-individu dalam menjalankan tugas yang diembannya, sebab manusia merupakan pelaksana kegiatan dalan rangka pencapaian tujuan. Oleh sebab itu patut disadari, karena begitu pentingnya peranan manusia seperti diuraikan diatas, maka setiap perilaku karyawan dalam suatu perusahaan tidak boleh dibiarkan seenaknya. Sebab bagaimanapun juga dalam sebuah perusahahan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka perilaku karyawan dituntut harus sesuai dengan aturan maupun batasan yang ada.
Agar manusia yang merupakan unsur terpenting dalam organisasi tersebut berfungsi seperti yang diharapkan, maka dalam melaksanakan pekerjaannya harus disertai dengan disiplin kerja. Penerapan disiplin kerja harus berdasarkan pada peraturan yang dimiliki perusahaan, tujuannya agar pelaksanaan kerja senantiasa terarah pada pencapaian tujuan yang ditetapkan perusahaan.
Dalam penerapan disiplin kerja tidak hanya tergantung dari individu-individu karyawan sendiri. Penerapan disiplin kerja untuk mencapai tujuan perusahaan juga sangat dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan.Menurut Tanenbaum, Weschler dan Masarikh (1961:24),kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu. Sedangkan menurut Rauch dan Behling (1984) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang di organisasi kearah pencapaian tujuan.
Sejalan dengan aktivitas yang dilakukan, dibutuhkan peningkatan kinerja pegawai agar dapat melaksanakan tugas yang ada sebaik mungkin. Untuk itu perlu diberikan sikap dasar pegawai terhadap diri sendiri, kompetensi, pekerjaan saat ini serta gambaran mereka peluang  yang bisa dirahi dalam struktur organisasi yang baru. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa perubahan struktur organisasi yang baru dapat mengakibatkan stress dan kecemasan karena mengadapi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Pada saat inilah faktor kepemimpinan, komunikasi, iklim organisasi dan motivasi kerja yang tinggi sangat berperan (tambunan 2005).
Faktor kepemimpinan dari atasan dapat memberikan pengayoman dan bimbingan kepada pegawai dalam mengadapi tugas dan lingkungan kerja yang baru. Pemimpin yang baik, akan mampu menularkan optimism dan pengetahuan yang dimilikinya agar pegawai yang menjadi bawahannya dapat melaksanakan pekerjaan yang baik.
Dalam melaksanakan pekerjaan, pegawai tidak lepas dari komunikasi dengan sesame rekan sekerja, atasan dan dengan bawahan komunikasi yang baik dapat menjadi sarana yang tepat dalam meningkatkan kinerja pegawai. Melalui komunikasi, pegawai dapat meminta petunjuk kepada atasan mengenai pelaksanaan kerja. Melalui komunikasi juga pegawai dapat saling bekerja sama satu sama yang lain.
Faktor komunikasi memelihara motivasi dengan memberikan penjelasan kepada para karyawan tentang apa yang harus dilakukan, seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja jika sedang berada di bawah standar (Robbins, 2002).
Komunikasi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan kerja. Hal ini mudah dipahami sebab komunikasi yang tidak baik bisa mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan organisasi, misalnya konflik antar pegawai, dan sebaliknya komunikasi yang baik dapat meningkatkan saling pengertian, kerjasama dan juga kepuasan kerja . Mengingat yang bekerjasama dalam suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan merupakan sekelompok sumber daya manusia dengan berbagai karakter, maka komunikasi yang terbuka harus dikembangkan dengan baik. Dengan demikian masing-masing karyawan dalam organisasi mengetahui tanggung jawab dan wewenang masing masing.
Karyawan yang mempunyai kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja karyawan menjadi semakin baik. Komunikasi memegang perana penting di dalam menunjang kelancaran aktivitas pegawai.
Iklim organisasi kondusif juga dibutuhkan dalam meningkatkan kinerja pegawai, hubungan yang baik dengan atasan, sesame rekan kerja dan bawahan dalam lingkungan kerja, akan memberi semangat kerja bagi pegawai. Selain itu keberadaan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan kerja juga mutlak diperlukan demi kelancaran pelaksanaan tugas. Apabiala semua itu tercipta dilingkungan kerja, maka akan meningkatkan kinerja karyawan.
Faktor motivasi juga tidak kalah penting dalam meningkatkan kinerja pegawai. Motivasi menjadi pendorong seseorang melaksanakan suatu kegiatan guna mendapatkan hasil yang baik. Oleh karena itulah tidak heran jika pegawai yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi biasanya mempunyai kinerja yang tinggi pula. Untuk itu motivasi kerja pegawai perlu dibangkitkan agar pegawai dapat menghasilkan kinerja yang terbaik.
Dengan demikian, Sebuah organisasi memerlukan manusia sebagai sumber daya pendukung utama untuk mencapai tujuan yang setelah ditetapkan. Sumber daya manusia yang berkualitas akan turut memajukan organisasi sebagai suatu  wadah  peningkatan produktivitas kerja. kedudukan strategis untuk meningkatkan produktivitas organisasi adalah pegawai, yaitu individu-individu yang bekerja pada suatu organisasi atau perusahan.
           Faktor kritis yang berkaitan dengan  keberhasilan program jangka panjang organisasi adalah kemampuan untuk mengukur seberapa banyak  karyawan berkarya dan mempergunakan informasi tersebut guna memastikan bahwa pelaksanaan kerja memenuhi standar-standar sekarang dan  meningkatkan sepanjang waktu. Untuk mengetahui kinerja karyawan dilakukan penilaian  kinerja. Penilaian kinerja  adalah  alat yang memanfaatkan tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari para karyawan tetapi  juga untuk mengembangkan dan memotivasikan karyawan. pada intinya penilaian kinerja dapat dianggap sebagai alat memverifikasi bahwa individu-individu memenuhi standar-standar kinerja yang telah ditetapkan.
Bahwa Dari survey awal yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire dapat dikatahui bahwa kinerja pegawai dikantor tersebut masih kurang baik. Hal itu terlihat dari masih banyaknya tugas yang dilakukan dengan waktu yang terlalu panjang dari yang ditentukan selain itu dari segi penyelenggaraan adminitrasi juga masih kurang baik, yang terlihat dari masih sering terjadi surat yang hilang, pada hal surat tersebut dibutuhkan untuk arsip Dinas.
Semua permasalahan yang terungkap dari survey awal tersebut dinyatakan pegawai yang dijadikan responden awal, disebabkan karena kurangnya pengarahan dari pimpinan mengenai mekanisme kerja yang efektif, sehingga pegawai cenderung melaksanakan pekerjaan sesuai perinsipnya sendiri. Dilain pihak dari segi pegawai sendiri kurang komunikasi untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahaminya dalam pelaksanaan kerja. Semua itu terjadi karena iklim organisasi yang ada kurang kondusip untuk memungkinkan terjadinya komunikasi yang baik antara atasan dengan bawahan, disamping pegawai sendiri kurang mempunyai motivasi untuk mendapatkan hasil kerja yang terbaik.
Berdasarkan uraian diatas, Nampak betapa pentinnya peranan faktor kepemimpinan, komunikasi, iklim organisasi dan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja pegawai. Hal ini mendorong penulis untuk meneliti beberapa besar pengaruh tersebut terhadap kinerja pegawai dan menuliskan hasilnya dalam tesis  berjudul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.







B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah faktor kepemimpinan  mempunyai pengaruh  yang positif terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire?
2.      Apakah faktor komunikasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap kerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire?
3.      Apakah faktor iklim organisasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire?
4.      Apakah faktor motivasi kerja mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire?
5.      Apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari faktor kepemimpinan, komunikasi, iklim organisasi dan motivasi secara simultan terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire?





C.   Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengkaji dan menganalisis pengaruh faktor kepemimpinan  terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.
2.      Untuk mengkaji dan menganalisis pengaruh faktor komunikasi terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.
3.      Untuk mengkaji dan menganalisis pengaruh  faktor iklim organisasi terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.
4.      Untuk mengkaji dan menganalisis pengaruh faktor motivasi kerja terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.
5.      Untuk mengkaji dan menganalisis pengaruh  faktor kepemimpinan, komunikasi, iklim organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.






D.    Manfaat  Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      Manfaat Akademis
Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai pendalaman tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sumber daya manusia serta upaya identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai Dinas Kabupaten Nabire.
2.      Manfaat Bagi Unit Kerja
Didarapkan dapat memberikan gambaran dan rekomendasi bagi pemimpin dan seluruh jajaran khususnya Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan untuk meningkatkan kinerja para pegawainya.
3.      Manfaat Bagi Penulis
Sebagai upaya lebih mendalami masalah-masalah sumber daya manusia secara mendekatkan antara teori-teori dan praktek dilapangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar