Sabtu, 25 Desember 2010

Kondisi Aspek Potensi Lokal

BAB II.
KONDISI UMUM ASPEK DAN POTENSI LOKAL PAPUA

A. Gambaran Umum Papua
ss
B. Kondisi Ekologis dan Kebudayaan Masyarakat Papua
Papua ditinjau dari lingkungan alam sangat beranekaragam. Menurut Petocz (1987; 30-37) Lingkungan utama di Papua terdiri dari :
1. Hutan Bakau, terdapat di rawa-rawa berair asing payau. Vegetasi ini tumbuh di sepanjang cekungan yang landai dan paling berkembang di daerah yang terlindung dari gamparan gelombang air laut. Hutan bakau yang paling luas terdapat di muara teluk Bintuni.
Penyebaran lingkungan vegetasi utama secara umum dapat dikeneli adalah hutan bakau dari daerah rawa berair asing dan payau. Vegetasi pelopor ini tumbuh sepenjang cekungan yang dilandai dan paling berkembang didaerah yang berlindung dari gempuran gelombang air laut. Dalam hutang bakau diseluruh new guinea ini teleh ditemukan 36 spesies.
2. Rawa, disepanjang pantai selatan, dataran rendah daerah Kepala Burung dan pantai utara delta Mamberamo ke arah barat sampai muara teluk Cenderawasih.
Rawa dataran rendah dan berair tawar yang luas ditemukan sepanjang pantai selatan ini termasuk rawa pedalaman yang luas mengelilinggi sungai idenburg dan rouffear dicekungan tengah dari daerah yang berdau rawa-rawa itu mengandung beraneka ragam lingkungan tanaman, termasuk lingkungan tanaman air yang murni, vegetasi semak, rawa rumput-rumputan, sabana, hutan dan hutan rawa.
3. Hutan basah dataran rendah adalah dua unit pemetaan yaitu daratan rendah 10-100 ml telah dibagi pada garis tinggi diatas muka laut 100 m dengan maksud untuk memisahkan hutan basah alluvial didataran rendah, dari daerah hutan basah perbukitan. Ini memang suatu pemisahan buatan yang tidak mutlak, kerena perbedaan dalam hutan dataran rendah selalu muncul secara bertahap sedikit demi sedikit, tetapi cara ini dipilih memisahkan hutan dataran rendahyang umumnya mempunyai tanah yang lebih dalam yang mengalami pengeringan sempurna tetapi sering pula terlenang air dari hutan diatas tanah yang lebih dangkal dari perbukitan dan lereng gunung yang tidak menderita pengenangan air.
Hutan alluvial adalah hutan dataran rendah ditimur kepala burung dekat manokwari. Hutan pepohonan tinggi yang beraneka ragam dan relatif mudah dijangkau ini mengandung banyak jenis kayu yang penting. Dan merupakan sasaran utama bagi industry perkayuan di Papua. Jenis rotan, terdapat dilapisan bawah bersama jenis-jenis paku sedangkan anggrek bukan main bayaknya.
Zone pegunungan bawah adalah hutan pegunungan yang rendah telah dipetakan antara 1.000 m dan 3.000 m, dan terdapat dipegunungan tengah serta gunung-gunung yang terpencil diutara dan barat. Perbedaan tingkat dari hutan basah pegunungan rendah itu ditandai oleh perubahan yang bertahap dalam flora dan pemunculan castonopsis yang mencolok dalam hutan campuran dizona pegunungan rendah. ada pegunungan dalam penganakaragaman species pohon dalam zone pegunungan yang lebih rendah.
4. Zone pegunungan atas adalah zone pegunungan diatas 3.000 m vegetasi tanaman berubah sekonyong-konyong dan mencolok sekali dilapangan. Hutan cemara dari zone pegunungan bawah memang ada juga cabang dan batang pohon yang penuh diliputih lumut berwarna-warni, tetapi didataran tinggi vegetasi pegungan itu diseling dengan pelbagai jenis paku tiang (Chyathea spp), sabana, gambut dan padang rumput. Tanaman padang terbuka.
6. Zone Alpin adalah zone alpin diatas 4.000 m bersifat perahlian kira-kira 200 m, terdapat kelompok perdu rendah dan padang rumput semak (Deschampsia) sudah tidak tampak lagi, dan diganti oleh rumput-rumputan yang lebih rendah, padang terbuka, tundra. Kelompok tanaman yang ada meliputi spesies herba yang kelompok seperti (Ranunculus, Potentilla, Gentiana, Epilobium, rumput-rumputan poa dan Deschampsia, serta macam-macam lumut dan lumut kerak. Daerah paling tinggi dari zone ini tertutup oleh salju dan padang es.
7. Flora adalah dengan berbagai jenis lingkungan hidup dan bentang daratan yang luas sampai setinggi hampir 5.000 m, diatas muka laut itu, Papua mengandung pemusatan kehidupan tanaman yang paling kaya diseluruh Indonesia. Dengan perkecualian daerah tadah hujan dibagian tengara, hutang yang subur dan lingkungan sabuk hitam basah tropis dan mengandung keanekaragaman tanaman filoristik yang luar biasa di Tanah Papua.
8. Fauna
1) Mamalia adalah daratan dari New guinea meliputih kira-kira 200 jenis, yang merupakan unsur fauna prapleistosin yang asli maupun beberapa bentuk yang dimasukan dari luar.
2) Burung fauna burung Papua luar biasa banyaknya beraneka ragam sekali dan unik dalam berbagai aspek, 852 jenis sejeuh ini sudah didokumentasikan. Fauna burung itu sebagian besar fauna Australia, tetapi beberapa jenis tertentu, seperti burung rongkong Papua.
3) Reptil dan amfibi adalah fauna binatang melata new guinea yang menarik juga menunjukan keanekaragaman jenis yang besar, tetapi sampai sekarang masih belum diketahui secara tuntas. Banyak jenis baru yang sampai kini masih sedang diidentifikasikan dari bahan yang sudah menumpuk dipelbagai dimuseum, tanpa studi lapangan lanjutan.
4) Ikan new guinea terletak dipusat dua daerah Samudra indo-pasifik, dan bersama dengan kepulauan malaisia, Indonesia, pilipina, mengandung fauna ikan yang paling kaya dan beraneka ragaman seluruh daerah itu.
Serangga jenis serangga new ginea mungkin sebanyak .
Kategori Petocz di dasarkan pada tinggi daratan diatas permukaan laut. Walker dan Mansoben (1990), telah menggolongkan masyarakat dan kebudayaan Papua dalam tiga kategori, tipe mata pencaharian yang berkembang di tiga tipe ekologi atau lingkungan alam, yaitu : (a) Daerah rawa-rawa, pantai dan banyak sungai (b) Daerah kaki bukit dan lembah-lembah kecil (c) Daerah dataran tinggi.
Parsudi Suparlan (1994), mengkritik kategori yang dibuat Walker dan Mansoben dengan menyebutkan bahwa apa yang telah dilakukan mereka sebenarnya telah mereduksi keanekaragaman kebudayaan di Papua ke dalam kategori mata pencaharian dan ekologinya, akan banyak merugikan warga masyarakat Papua. Mata pencaharian bukanlah suatu gejala yang merupakan satuan yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan dan didukung oleh pengorganisasian sosial (keluarga, kelompok kekerabatan, keyakinan keagamaan, hak milik dan penguasaan atas tanah dan pohon, kekuasaan dan pertahanan, serta berbagai aspek lainnya). Selanjutnya Parsudi melihat bahwa kerugian yang dimaksud adalah diabaikannya satuan budaya yang mendukung kebudayaan ekonomi dari masyarakat setempat.
Berdasarkan kategori kebudayaan yang dibuat Walker dan Mansoben ini, oleh Parsudi Suparlan mengusulkan pembagian pola-pola kebudayaan di Papua dalam suatu penggolongan yang lebih luas yaitu : (pertama) Wilayah pantai dan pulau, yang terdiri atas : (1) Daerah pantai utara, (2) Daerah-daerah pulau-pulau Biak-Numfor, Yapen, Waigeo dan pulau-pulau kecil lainnya, (3) Daerah pantai selatan yang penuh dengan daerah berlumpur dan pasang surut serta perbedaan musim kemarau dan hujan yang tajam. (kedua) Wilayah pedalaman yang mencakup : (1) Daerah sungai-sungai dan rawa-rawa (2) Daerah danau dan sekitarnya (3) Daerah kaki bukit dan lembah-lembah kecil. (ketiga) Wilayah dataran tinggi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Walker dan Mansoben.
Koentjaraningrat mengelompokkan masyarakat Papua berdasarkan letak geografis dan mata pencahariannya menjadi empat yaitu. (1) Penduduk Pantai dan Hilir. Kelompok ini telah mengadakan kontak dengan dunia modern/luar kurang lebih 100 tahun yang lalu, dan sudah beragama Kristen dan Roma Khatolik. Mereka sudah mengalami pendidikan formal dan kebutuhan hidup tergantung pada pasar dengan sumber alam yang melimpah. (2) Masyarakat Pedalaman. Kelompok-kelompok kecil yang tinggal di sepanjang sungai, di hutan-hutan rimba. mereka adalah peramu yang sering berpindah-pindah tempat tinggal, jumlah penduduknya tidak besar. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah orang-oranng Bauzi , Kerom, Waropen atas, Asmat hulu dan lain-lain. (3) Masyarakat Pegunungan Tengah. Kelompok masyarakat ini terdidri dari beberapa suku bangsa yang tinggal di lembah-lembah, di pengunungan tengah yang terdiri dari pegunungan Mooke, Sudirman. Dalam keadaan sekarang mereka ini pada umumnya tinggal di kebupaten Paniai dan Jayawijaya, jumlah penduduknya cukup padat. Pemeliharaan ternak babi dan pembudidayaan Ubi jalar merupakan kegiatan ekonomi yang maha penting (Giay.B; 1996, 4-5). (a) Masyarakat Pegunungan Arfak. Kelompok masyarakat ini latar belakang corak kehidupannya, sama dengan warga yang dimukim Papua pegunungan tengah. Kategori ini mempunyai keuntungan tapi juga kerugian terhadap masyarakat. Keuntungannya adalah karena kategori ini bisa mempermudah menganlisis dan membuat rencana-rencana dan program. Kerugiannya adalah kategori ini bisa menjebak saya pada analisis yang dangkal dan kurang memperhatikan aspek-aspek yang lain. Namun untuk kepentingan ilmu, maka perlu ada klasifikasi demikian. Saya tidak mau menganut klasifikasi-klasifikasi itu, tetapi orientasi saya bahwa kebudayaan ini berbeda-beda, tetapi untuk mengkategori perbedaan-perbedaan itu membutuhkan pekerjaan yang besar. Mudah-mudahan ada pakar-pakar dari Papua ini yang mau melakukan pekerjaan besar ini. Menurut Koentjaraningrat (1994) kebudayaan di Papua menunjukkan corak yang beraneka ragam yang disebut sebagai kebhinekaan masyarakat tardisional Papua.
Dalam kepustakaan Antropologi, Papua dikenal sebagai masyarakat yang terdiri atas suku-suku bangsa dan suku-suku yang beraneka ragam kebudayaannya. Menurut Tim Peneliti Uncen (1991) telah diidentifikasi adanya 44 suku bangsa yang masing-masing merupakan sebuah satuan masyarakat, kebudayaan dan bahasa yang berdiri sendiri. Sebagian besar dari 44 suku bangsa itu terpecah lagi menjadi 177 suku. Menurut Held (1951,1953) dan Van Baal (1954), ciri-ciri yang menonjol dari Papua adalah keanekaragaman kebudayaannya, namun dibalik keanekaragaman tersebut terdapat kesamaan ciri-ciri kebudayaan mereka. Perbedaan-perbedaan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat Papua dapat dilihat perwujudannya dalam bahasa, sistem-sistem komunikasi, kehidupan ekonomi, keagamaan, ungkapan-ungkapan kesenian, struktur pollitik dan struktur sosial, serta sistem kekerabatan yang dipunyai oleh masing-masing masyarkat tersebut sebagaimana terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari
Walaupun terdapat keanekaragaman kebudayaan masyarakat di Papua, tetapi diantara mereka itu juga terdapat ciri-cirinya yang umum dan mendasar yang memperlihatkan kesamaan-kesamaan dalam inti kebudayaan atau nilai-nilai budaya mereka. Held mengatakan bahwa kebudayaan orang Papua bersifat longgar. Strukturnya yang longgar itu disebabkan oleh ciri-ciri orang Papua pada umumnya “Improvisator kebudayaan“, yaitu mengambil alih unsur-unsur kebudayaan dan menyatukannya dengan kebudayaannya sendiri tanpa memikirkan untuk mengintegrasikannya dengan unsur-unsur yang sudah ada dalam kebudayaannya, secara menyeluruh (Parsudi Suparland, 1994). van Baal (1951) mengatakan bahwa ciri utama kebudayaan Papua adalah tidak adanya integrasi yang kuat dari kebudayaan-kebudayaan mereka. Ciri-ciri kebudayaan tersebut muncul karena kebudayaan orang Papua yang rendah tingkat teknologinya dan yang dihadapkan pada lingkungan hidup yang keras sehingga dengan mudah menerima dan mengambil alih suatu unsur kebudayaan lain yang lebih maju atau lebih cocok.
Kebudayaan Papua juga terbentuk atas interaksi diantara masyarakat Papua dan masyarakat di luar Papua. Interaksi dalam kategori yang terakhir diulas panjang lebar oleh Koentjaraningrat (1994). Dalam awal kontak interaksi yang memberi dampak dalam kehidupan penduduk Papua dengan akibat terjadinya perubahan-perubahan kebudayaan mereka adalah kontak interaksi dengan para pedagang yang mencari burung Cenderawasih dan menukarnya dengan kain Timor dan Manik-manik, para penyebar agama Kristen dan Katholik, yang mengkristenkan mereka melalui pendidikan formal dengan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya; Penyebaran teknologi dan penggunaan uang oleh pemerintah Belanda di Papua dan kemudian oleh pemerintah Republik Indonesia. Kontak-kontak dengan kebudayaan dari luar telah memungkinkan orang Papua lebih terbuka dari sebelumnya, dan keterbukaan suku bangsa atau suku ini telah dimungkinkan karena ciri-ciri mereka sebagai “Improvisator” (Parsudi Suparlan, 1994).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar